Berita Terbaru

Diberdayakan oleh Blogger.
KONSOLIDASI PEMBENTUKAN SGAN DIGELAR DI JAKARTA UTARA, GEMA PS NUSANTARA SIAP DORONG KEKUATAN 6,3 JUTA ANGGOTA BERGABUNG

By On November 07, 2026


JAKARTA UTARA – Langkah pembentukan organisasi Sahabat Garda Nusantara (SGAN) mulai memasuki tahap konsolidasi serius. Pada Sabtu, 7 November 2026, sejumlah tokoh berkumpul dalam rapat pembentukan SGAN yang berlangsung di Pasifik Hotel, Jalan ND, Tanjung Priok, Jakarta Utara. Pertemuan tersebut menjadi momentum penting untuk membangun wadah organisasi yang diharapkan mampu memperkuat sinergi masyarakat, mengawal kepentingan rakyat, serta menjembatani komunikasi antara masyarakat dan pemerintah.


Rapat tersebut dihadiri Agung Sulistio, Sahipul, Rozikin alias Bledek selaku Ketua Umum Gema PS Nusantara, serta Suroso selaku Sekretaris Jenderal Gema PS Nusantara. Pertemuan berlangsung dalam suasana penuh keseriusan dengan pembahasan mengenai arah organisasi, struktur kepengurusan, kekuatan jaringan, serta strategi pengembangan SGAN ke depan.


Salah satu hal yang menjadi perhatian dalam pertemuan tersebut adalah potensi dukungan dari Gema PS Nusantara. Rozikin alias Bledek menyampaikan bahwa Gema PS Nusantara memiliki jaringan keanggotaan yang diklaim mencapai 6,3 juta orang dan menyatakan kesiapan untuk bergabung serta mendukung pembentukan SGAN. Potensi tersebut dinilai dapat menjadi kekuatan besar apabila proses konsolidasi, komunikasi, dan penyatuan visi dapat berjalan secara terarah.


Agung Sulistio dalam pertemuan tersebut menekankan bahwa SGAN tidak boleh sekadar menjadi organisasi dengan nama besar dan struktur kepengurusan semata. SGAN harus memiliki keberanian, integritas, serta komitmen nyata dalam memperjuangkan kepentingan masyarakat. Organisasi ini diharapkan menjadi ruang pengabdian bagi berbagai elemen masyarakat yang memiliki kepedulian terhadap persoalan sosial, hukum, lingkungan, dan pembangunan nasional.


Sementara itu, keterlibatan Sahipul, Rozikin alias Bledek, dan Suroso dinilai menjadi bagian penting dalam membangun komunikasi lintas jaringan. Dengan potensi dukungan Gema PS Nusantara, SGAN diharapkan mampu memperluas jangkauan gerakan hingga ke berbagai daerah. Namun, besarnya angka keanggotaan harus diikuti dengan konsolidasi nyata, pendataan yang akurat, serta komitmen bersama agar kekuatan organisasi tidak hanya besar secara angka, tetapi juga solid dalam pelaksanaan program.


Ke depan, SGAN diarahkan untuk mengembangkan berbagai program yang menyentuh kebutuhan masyarakat, mulai dari penyerapan dan pengawalan aspirasi rakyat, edukasi hukum, advokasi sosial, kepedulian lingkungan, hingga pengawasan terhadap pelayanan publik. Prinsip yang ingin dibangun adalah organisasi yang hadir di tengah masyarakat, bekerja secara profesional, menjunjung tinggi hukum, serta mengedepankan dialog dan solusi dalam menyelesaikan persoalan.


Pertemuan di Jakarta Utara ini menjadi salah satu langkah awal perjalanan SGAN dalam membangun kekuatan organisasi yang lebih luas. Dengan dukungan jaringan, visi bersama, dan komitmen para penggeraknya, SGAN diharapkan tumbuh menjadi kekuatan sosial yang diperhitungkan. Sebab, kekuatan organisasi bukan hanya diukur dari banyaknya anggota, melainkan dari keberanian menjaga integritas, konsistensi memperjuangkan kebenaran, dan manfaat nyata yang diberikan kepada masyarakat.


SAHABAT GARDA NUSANTARA (SGAN) – GEMA PS NUSANTARA


“Bersama Rakyat, Mengawal Kebenaran, Untuk Indonesia yang Lebih Baik.”

DR. FACHRUL RAZI: PENYADAPAN PRESIDEN PRABOWO ADALAH MAKAR

By On November 06, 2026


JAKARTA — Dugaan penyadapan ilegal terhadap Presiden Prabowo Subianto yang menyeret mantan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dan sejumlah perwira tinggi Polri harus diusut secara menyeluruh. Perkara ini tidak boleh hanya dipandang sebagai tindak pidana penyadapan atau pelanggaran privasi, tetapi sudah mengarahkan kepada makar karena adanya operasi terorganisasi yang berpotensi mengancam keamanan negara dan konstitusi.


Hal tersebut disampaikan Dr. Fachrul Razi, mantan Ketua Komite I DPD RI periode 2019–2024, kepada media (6/11) yang menilai bahwa dugaan penggunaan instrumen keamanan negara untuk menyadap Presiden merupakan persoalan serius dalam kehidupan demokrasi dan ketatanegaraan Indonesia.


“Kalau benar penyadapan terhadap Presiden dilakukan secara ilegal, tanpa dasar hukum dan tanpa kepentingan penegakan hukum yang sah, maka ini bukan persoalan teknis teknologi komunikasi. Kita harus bertanya: siapa yang memerintahkan, siapa yang mengendalikan, siapa yang menerima hasil sadapan, dan untuk kepentingan politik apa informasi tersebut digunakan?” tegas Fachrul Razi yang juga Pakar Politik Hukum Universitas Kartamulia.


Menurutnya, Presiden merupakan pemegang kekuasaan pemerintahan berdasarkan UUD 1945. Karena itu, dugaan penggunaan instrumen negara untuk mengawasi Presiden di luar mekanisme hukum harus dipandang sebagai persoalan serius yang menyangkut integritas institusi negara.


“Kalau penyadapan dilakukan secara sistematis terhadap Presiden dan sejumlah tokoh strategis, maka harus diperiksa apakah terdapat agenda pengumpulan informasi untuk mengendalikan, menekan, atau melemahkan pemerintahan. Jangan sampai kita hanya mengungkap pelaksana teknis, sementara aktor intelektual dan tujuan sebenarnya tidak pernah dibongkar,” ujarnya.


Ia menilai, penguasaan informasi strategis dapat menjadi instrumen kekuasaan. Dalam praktik politik modern, pengawasan komunikasi dapat disalahgunakan untuk memetakan kelemahan, membangun tekanan, memengaruhi keputusan, bahkan mengganggu stabilitas pemerintahan. De. Fachrul Razi menilai dugaan penyadapan tersebut merupakan tindakan yang tidak berdiri sendiri bahkan menjadi bagian dari operasi politik yang lebih luas.


Dari perspektif politik hukum, Fachrul Razi meminta penyidik tidak menutup kemungkinan untuk menguji ketentuan makar dalam KUHP Nasional. Ia menjelaskan, Pasal 160 UU Nomor 1 Tahun 2023 mengatur pengertian makar. Pasal 191 mengatur makar dengan maksud membunuh atau merampas kemerdekaan Presiden dan/atau Wakil Presiden, atau menjadikan Presiden dan/atau Wakil Presiden tidak mampu menjalankan pemerintahan. Sementara Pasal 193 mengatur makar dengan maksud menggulingkan pemerintah.


Selain itu, Pasal 196 setelah perubahan melalui UU Nomor 1 Tahun 2026 mengatur permufakatan jahat untuk melakukan tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 191 sampai dengan Pasal 193.


“Penyadapan ilegal bisa mengarahkan upaya makar. Tetapi apabila kemudian hari menemukan bukti bahwa penyadapan tersebut merupakan bagian dari perencanaan untuk melumpuhkan kemampuan Presiden menjalankan pemerintahan atau menggulingkan pemerintahan yang sah, maka unsur makar harus diuji secara serius,” katanya.


Dalam perspektif hukum tata negara, Fachrul Razi mengingatkan bahwa Pasal 1 ayat (3) UUD 1945 menegaskan Indonesia sebagai negara hukum. Seluruh institusi negara, termasuk aparat keamanan, wajib menjalankan kewenangan berdasarkan konstitusi dan undang-undang.


Menurutnya, tidak boleh ada institusi yang memiliki kekuasaan informal untuk mengawasi, menekan, atau mengendalikan Presiden maupun warga negara tanpa dasar hukum.


“Polisi dan aparat keamanan adalah instrumen negara, bukan pemilik kekuasaan negara. Kewenangan diberikan untuk melindungi rakyat dan menegakkan hukum, bukan untuk membangun kekuasaan politik di luar konstitusi,” ujarnya.


Ia juga mengingatkan bahwa penyalahgunaan sistem penyadapan dapat berimplikasi pada pelanggaran sejumlah ketentuan hukum, antara lain Pasal 258 KUHP Nasional, Pasal 40 jo. Pasal 56 UU Telekomunikasi, Pasal 31 jo. Pasal 47 UU ITE, serta ketentuan dalam UU Pelindungan Data Pribadi apabila unsur-unsurnya terpenuhi.


Menutup pernyataannya, Fachrul Razi menegaskan bahwa kedaulatan negara tidak boleh dikompromikan oleh praktik penguasaan informasi dan kekuasaan di luar konstitusi.


kekuatan argumentasi makar tidak terletak semata-mata pada fakta bahwa Presiden disadap. Kekuatan argumentasinya terletak pada pembuktian bahwa penyadapan merupakan bagian dari suatu operasi dengan tujuan menyerang Presiden, melumpuhkan pemerintahan, atau menggulingkan kekuasaan secara inkonstitusional.


“Persoalan ini bukan semata-mata tentang Presiden yang diduga disadap. Ini tentang masa depan negara hukum Indonesia. Jika instrumen keamanan negara dapat digunakan di luar konstitusi, maka siapa pun dapat menjadi sasaran penyalahgunaan kekuasaan,” tutup alumni Universitas Indonesia.

JUMAT BERKAH, PJR INDUK SERANG PERERAT KEDekatan DENGAN DRIVER BUS DAN PENUMPANG MELALUI MAKAN BERSAMA

By On November 06, 2026



SERANG – Wujud kepedulian dan pendekatan humanis kepada masyarakat ditunjukkan oleh personel Patroli Jalan Raya (PJR) Induk Serang Korlantas Polri melalui kegiatan Jumat Berkah. Kali ini, kegiatan diisi dengan makan bersama para pengemudi bus dan calon penumpang di Agen Bus Ciujung, Serang, Jumat (6/11/2026).


Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 13.00 hingga 14.00 WIB tersebut berjalan aman, tertib, dan penuh keakraban. Sebanyak lima personel PJR Induk Serang hadir dan berbaur langsung bersama 15 pengemudi bus serta 25 calon penumpang.


Tidak terlihat adanya sekat antara petugas kepolisian dengan masyarakat. Seluruh peserta duduk bersama, menikmati hidangan, sekaligus berbincang santai dalam suasana kekeluargaan.


Kegiatan Jumat Berkah ini bukan sekadar agenda makan bersama, melainkan menjadi sarana membangun komunikasi, mempererat silaturahmi, serta meningkatkan kedekatan antara polisi lalu lintas dengan para pengemudi dan pengguna jasa transportasi umum.


Salah satu personel PJR Induk Serang menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya membangun hubungan yang harmonis antara kepolisian dan masyarakat.


"Kami ingin menjalin keakraban. Melalui kegiatan ini, anggota PJR, pengemudi bus, dan penumpang bisa saling mengenal serta memahami. Harapannya, komunikasi yang baik dapat mendukung terciptanya lalu lintas yang lebih tertib, aman, dan lancar," ungkapnya.


Para pengemudi bus menyambut positif kegiatan tersebut. Mereka merasa mendapat perhatian dan penghargaan dari jajaran kepolisian. Pendekatan seperti ini dinilai mampu menciptakan hubungan yang lebih dekat, tidak hanya sebatas interaksi antara petugas dan pengemudi di jalan raya.


Apresiasi juga datang dari para calon penumpang. Mereka mengaku senang dapat merasakan kebersamaan secara langsung dengan personel kepolisian dan berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan.


Melalui kegiatan Jumat Berkah, PJR Induk Serang menunjukkan bahwa kehadiran Polri di tengah masyarakat tidak hanya sebatas menjalankan tugas pengamanan dan penegakan hukum, tetapi juga membangun kepedulian sosial, komunikasi, serta pelayanan yang mengedepankan pendekatan humanis.


Kegiatan ditutup dengan foto bersama dan doa untuk keselamatan seluruh pengemudi maupun penumpang agar senantiasa diberikan perlindungan dan kelancaran selama perjalanan.


Polri Hadir, Masyarakat Terayomi. Bersama Membangun Lalu Lintas yang Aman, Tertib, dan Humanis.


Surya

Dana Rp 234 Juta Diduga Digelapkan Pengasuh Anak; Mantan PMI Asal Tukdana Indramayu Akan Laporkan ke Aparat, Serta Soroti Dugaan Kekerasan Psikis Terhadap Anak

By On November 05, 2026


Indramayu, 5 November 2026 – Seorang mantan Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Desa Cangko, Kecamatan Tukdana, Kabupaten Indramayu berinisial M (32), yang telah bekerja di Riyadh Arab Saudi selama 5,5 tahun (periode 27 November 2019 hingga 18 Mei 2025), mengungkap dugaan penggelapan dana senilai sekitar Rp 234 juta oleh pihak yang selama ini mengasuh anaknya. Korban yang kini sedang hamil tua dan berada di Bandung berencana melaporkan kasus ini ke aparat penegak hukum, sekaligus mengadukan dugaan kekerasan psikis terhadap anaknya yang masih di bawah umur.

 

Berdasarkan dokumen dan informasi yang diterima Tim Investigasi Gabungan Media Online dan Cetak Ternama (GMOCT) , korban menerima gaji rutin dari majikan berinisial R melalui Alinma Bank dan BNI dengan total gaji selama 5,5 tahun mencapai sekitar Rp 380 juta. Dana tersebut dialirkan ke rekening BRI nomor 08610105118XXXX atas nama Maesaroh.

 

Korban menyatakan telah membayar biaya pengasuhan anak sebesar Rp 186 juta. Namun sisa dana sekitar Rp 194 juta belum dipertanggungjawabkan secara jelas. Selain itu, korban mengaku telah menanamkan dana gadai sawah senilai Rp 40 juta yang dijanjikan keuntungan Rp 3,5 juta per bulan, namun keuntungan tersebut tidak pernah diterima. Sehingga total kerugian yang diduga dialami korban ditaksir mencapai sekitar Rp 234 juta.

 

"Selama saya bekerja di Saudi, saya mempercayai anak dan dana kepada pengasuh. Namun setelah saya pulang, saya tidak mendapatkan laporan keuangan yang jelas. Dana yang seharusnya menjadi hak saya seolah‑olah dijadikan milik sendiri," ujar korban kepada tim investigasi GMOCT.

 

Korban juga mengungkap keluhan mendalam terkait kondisi anaknya berinisial AN yang selama diasuh terduga pelaku. Anak tersebut dikabarkan sering dibentak dan mengalami tekanan psikis selama berada di bawah pengasuhan, sehingga diduga terjadi kekerasan psikis terhadap anak yang masih di bawah umur. Redaksi tidak memuat identitas lengkap anak demi perlindungan hak anak. 

 

 

Dari sisi dugaan penggelapan, kasus ini mengarah pada Pasal 486 dan Pasal 488 Undang‑Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP Baru. Pasal 486 mengatur penggelapan pokok yaitu setiap orang yang secara melawan hukum memiliki barang yang sebagian atau seluruhnya milik orang lain yang sudah berada dalam kekuasaannya bukan karena tindak pidana. Sedangkan Pasal 488 merupakan pemberatan apabila penguasaan tersebut berawal dari hubungan kepercayaan, pengasuhan, profesi atau tugas yang dipercayakan kepadanya, dengan ancaman pidana penjara paling lama 5 tahun atau denda kategori V.,

 

Namun redaksi menegaskan bahwa belum otomatis terbukti penggelapan sebelum aparat memverifikasi bukti transfer, bukti biaya pengasuhan, perjanjian gadai sawah, serta niat terduga pelaku untuk memiliki dana tersebut secara melawan hukum. Sekadar wanprestasi atau sengketa keuangan belum tentu menjadi tindak pidana.

 

Sementara itu, dugaan kekerasan psikis terhadap anak merujuk pada Pasal 76C Undang‑Undang Nomor 23 Tahun 2002 sebagaimana diubah Undang‑Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak yang melarang setiap bentuk kekerasan termasuk kekerasan psikis terhadap anak, serta Pasal 80 yang mengatur sanksi pidana bagi yang melanggar ketentuan tersebut. , 

 

 

Korban berencana diwakilkan oleh kuasa keluarga dari Tangerang dengan surat kuasa bermaterai untuk melaporkan kasus tersebut ke Aparat Penegak Hukum dan instansi terkait. Dalam surat laporan nanti, korban meminta aparat agar mengamankan rekening koran periode 2019‑2025 atas rekening BRI nomor 086101051184XXXX untuk menelusuri aliran dana Rp 380 juta.

 

Pihak korban juga akan meminta BP3MI Jawa Barat untuk mendampingi korban yang sedang hamil tua, serta meminta DP3AP2KB dan KPAI turut mengawal dugaan kekerasan terhadap anak. Saksi Bapak Kasdi selaku Ketua RW 09 Desa Cangko dikabarkan siap memberikan keterangan kepada aparat.

 

Pihak Korban meminta Tim Investigasi GMOCT untuk terus mengawal kasus ini, meminta Aparat Penegak Hukum melakukan pemeriksaan secara profesional, memeriksa laporan keuangan secara transparan, serta memastikan anak korban mendapatkan pemulihan psikologis.

 

"Kami meminta negara hadir nyata bagi mantan PMI yang telah berkorban bertahun‑tahun di luar negeri. Jangan biarkan hasil keringat di Saudi raib begitu saja, apalagi anak korban harus menderita akibat kekerasan psikis," tegas kuasa keluarga korban.

 

Catatan Redaksi

 

Berita ini merupakan hasil investigasi berdasarkan keterangan korban dan dokumen yang diterima redaksi. Status terduga pelaku belum terbukti bersalah sebelum ada putusan pengadilan. Redaksi telah menyembunyikan identitas lengkap anak demi perlindungan hak anak dan tidak memuat nama terduga pelaku sebelum konfirmasi resmi dari aparat. Redaksi akan terus memantau perkembangannya. 

 

Sumber: Tim Investigasi GMOCT / Media Benteng Merdeka



#Noviral #Nojustice

Hotline Pengaduan dan Hak Jawab : 0821-1758-6761


Gabungan Media Online dan Cetak Ternama (GMOCT)

Diduga Informasi Bocor Kapolsek Leles Memberikan Nomor Telepon Awak Media Kepada Pengusaha Obat Daftar G

By On November 04, 2026


Alih-alih memberantas peredaran obat keras golongan G di wilayah hukum Leles tepat nya di Jalan Jaksa Agung R, soeprapto, Kecamatan Leles, Kabupaten Garut, Jawa barat. Nyatanya aktivitas tersebut terus berlangsung tanpa hambatan berarti, hal ini memunculkan pertanyaan serius soal efektivitas dan integritas Polsek Leles. Rabu 3 Juni 2026


Menanggapi kondisi tersebut, Vini Amelia selaku Pimpinan Redaksi Media Online KataTribun menilai adanya indikasi kuat kebocoran informasi setiap kali aparat hendak melakukan penindakan. Menurutnya, pola yang terjadi bukan lagi kebetulan, melainkan berulang dan sistematis.


“Anehnya Setiap kali aparat datang, lokasi selalu kosong. Bahkan setelah aparat selesai menindak, penjual obat tersebut buka kembali seperti kebal hukum, Ini pola berulang yang patut diduga sebagai kebocoran informasi,"Rabu (04/11/2026).


Menurut Vini menilai, kondisi tersebut sangat berbahaya karena tidak hanya mencederai rasa keadilan masyarakat, tetapi juga merusak kepercayaan masyarakat terhadap institusi penegak hukum. Terlebih, peredaran obat keras ilegal berdampak langsung terhadap generasi muda dan keamanan lingkungan.


“Jika aparat hanya datang tanpa hasil, masyarakat akan menilai penegakan hukum sebatas formalitas. Ini persoalan serius karena menyangkut keselamatan masyarakat, bukan sekadar pelanggaran ringan,” ujarnya.


Ia pun mendesak Kapolsek Leles untuk tidak menutup mata dan segera melakukan evaluasi internal secara menyeluruh, termasuk menelusuri kemungkinan keterlibatan oknum aparat yang diduga bermain mata dengan jaringan pengedar obat keras.


“Harus ada audit internal. Jika ditemukan oknum yang menyalahgunakan kewenangan, tindak tegas tanpa kompromi. Jangan biarkan satu atau dua oknum merusak marwah institusi,” kata vini.


Lebih lanjut, Vini menegaskan bahwa penegakan hukum tidak boleh bersifat reaktif, seremonial, atau sekadar merespons laporan sesaat.


Menurutnya, dibutuhkan langkah berkelanjutan, pengawasan ketat, dan transparansi agar praktik peredaran obat keras ilegal benar-benar bisa diputus.


“Penindakan harus konsisten dan berkelanjutan. Negara tidak boleh kalah oleh jaringan penjual obat keras. Jika dibiarkan, ini sama saja memberi ruang tumbuh bagi kejahatan,” pungkasnya.


Vini berharap aparat penegak hukum dapat segera membuktikan komitmen nyata di lapangan tidak hanya sekedar datang namun bisa mempoliceline demi menjaga keamanan dan keselamatan masyarakat, Khususnya di wilayah Leles.

100 HARI PERTAMA KAPOLRI DIUJI: DUGAAN PEREDARAN OBAT KERAS DAFTAR G DI LELES GARUT, PENINDAKAN DISOROT—ISU KEBocoran INFORMASI MENCuat

By On November 04, 2026

 


GARUT — Seratus (100) hari pertama kepemimpinan Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto sebagai Kapolri menjadi momentum penting untuk membuktikan komitmen reformasi dan peningkatan kepercayaan publik terhadap institusi Polri. Rabu (4/11/2026), perhatian masyarakat tertuju pada tiga agenda utama yang dijanjikan, yakni menciptakan ruang publik yang aman, memberantas peredaran narkoba, serta menindak praktik judi daring dan penipuan digital. Namun, komitmen tersebut kini diuji oleh dugaan maraknya peredaran obat keras daftar G di wilayah hukum Polsek Leles, Kabupaten Garut.


Persoalan ini mencuat setelah adanya laporan masyarakat mengenai dugaan aktivitas jual beli obat keras jenis Tramadol, Eximer, dan obat sejenis yang diduga berlangsung di lingkungan permukiman. Aktivitas tersebut disebut-sebut melibatkan pembeli dari kalangan remaja hingga orang dewasa. Kondisi ini menimbulkan keresahan karena peredaran obat keras tanpa pengawasan dan ketentuan yang sah berpotensi membahayakan kesehatan, khususnya generasi muda.


Seorang warga setempat yang identitasnya disamarkan dengan nama Rijal mengaku sering melihat sejumlah anak muda mendatangi lokasi yang dicurigai menjadi tempat transaksi obat-obatan tersebut. Ia mengaku mengetahui dugaan jenis obat yang diperjualbelikan setelah memperhatikan aktivitas para pembeli. "Saya sering melihat banyak anak-anak remaja sampai dewasa membeli obat Tramadol dan lainnya. Saya bisa mengetahui karena banyak anak muda yang datang ke lokasi untuk membeli obat tersebut," ungkapnya, Selasa (3/11/2026).


Sementara itu, Aipda Kiki selaku Kanit Reskrim Polsek Leles membenarkan bahwa pihaknya telah menerima dan menindaklanjuti informasi mengenai dugaan transaksi obat keras daftar G jenis Tramadol, Eximer, dan sejenisnya. Namun, berdasarkan hasil tindak lanjut awal, lokasi yang dilaporkan disebut sudah tidak menunjukkan aktivitas. "Sudah kami tindaklanjuti, namun lokasi yang dilaporkan sudah tidak ada aktivitas," demikian keterangan Kanit Reskrim Polsek Leles melalui pesan WhatsApp kepada wartawan, Selasa (3/11/2026).


Meski demikian, berhentinya aktivitas di lokasi yang dilaporkan belum serta-merta menjawab seluruh pertanyaan masyarakat. Muncul dugaan adanya kebocoran informasi sebelum penindakan dilakukan. Bahkan, beredar pula isu mengenai dugaan uang koordinasi yang disebut-sebut berkaitan dengan kelancaran aktivitas penjualan. Namun, hingga berita ini diterbitkan, informasi mengenai dugaan kebocoran informasi maupun uang koordinasi tersebut belum terverifikasi dan tidak dapat dianggap sebagai fakta atau tuduhan yang telah terbukti. Karena itu, diperlukan pemeriksaan dan klarifikasi dari pihak berwenang agar tidak berkembang menjadi spekulasi liar.


Katatribun.id memandang persoalan ini perlu mendapat perhatian serius dari Kapolres Garut, Kapolda Jawa Barat, Bidang Propam, serta fungsi pengawasan internal Polri. Penelusuran tidak cukup hanya berhenti pada pemeriksaan lokasi, tetapi juga perlu memastikan sumber pasokan obat, pihak yang diduga terlibat, legalitas distribusi, serta kemungkinan adanya jaringan penjualan lain. Apabila ditemukan pelanggaran oleh oknum maupun pelaku usaha, penindakan harus dilakukan secara profesional, transparan, dan sesuai ketentuan hukum yang berlaku.


Seratus hari pertama kepemimpinan Kapolri seharusnya menjadi momentum pembuktian, bukan sekadar deretan janji. Masyarakat membutuhkan tindakan nyata, bukan hanya laporan bahwa lokasi sudah sepi setelah informasi penindakan beredar. KabarSBI.com mendorong Polsek Leles dan Polres Garut memberikan penjelasan terbuka mengenai perkembangan penanganan perkara ini. Redaksi juga membuka ruang hak jawab dan klarifikasi bagi Aipda Kiki, Kapolsek Leles, Kapolres Garut, maupun pihak-pihak yang disebut dalam pemberitaan. Sebab, pemberantasan peredaran obat keras harus berjalan beriringan dengan keberanian membersihkan institusi dari segala bentuk penyimpangan apabila memang terbukti terjadi.

Dugaan Politik Uang Bayangi Pilkades Kabunan, Panwas Jangan Bungkam: Rp100 Ribu Dipertaruhkan, Integritas Demokrasi Dipertaruhkan

By On November 04, 2026




PEMALANG, KabarSBI.com — Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Kabunan, Kecamatan Taman, Kabupaten Pemalang, kini menghadapi ujian serius. Dugaan praktik politik uang berupa pembagian amplop berisi uang Rp100.000 kepada masyarakat mencuat di tengah tahapan demokrasi desa yang seharusnya berlangsung jujur, terbuka, bebas dari tekanan, dan tanpa transaksi suara. Selasa (3/11/2026).

Informasi tersebut diperoleh awak media dari seorang sumber yang meminta identitasnya dirahasiakan. Sumber menyebut adanya dugaan pembagian amplop yang diduga berkaitan dengan salah satu calon kepala desa. Namun, KabarSBI.com menegaskan informasi tersebut belum dapat dinyatakan sebagai fakta hukum sebelum dilakukan verifikasi dan pemeriksaan oleh pihak yang berwenang.

Redaksi mengaku memiliki materi berupa rekaman video yang diklaim memperlihatkan aktivitas pembagian amplop serta dokumentasi amplop berisi uang. Materi tersebut kini menjadi bagian penting yang perlu diuji secara objektif, mulai dari keaslian rekaman, waktu dan lokasi pengambilan gambar, identitas orang yang terlihat, asal-usul uang, hingga apakah pemberian tersebut benar-benar berkaitan dengan upaya memengaruhi pilihan pemilih dalam Pilkades Kabunan.

Jika setelah pemeriksaan resmi dugaan tersebut terbukti memenuhi unsur politik uang, persoalannya tentu tidak berhenti pada nominal Rp100.000. Yang dipertaruhkan adalah kemurnian suara rakyat dan legitimasi kepala desa yang lahir dari proses pemilihan tersebut. Sebab, demokrasi tidak boleh berubah menjadi transaksi: suara rakyat ditukar dengan amplop, sementara masa depan desa menjadi taruhannya.

Secara regulasi, Pilkades saat ini memiliki landasan terbaru melalui Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2026 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa. PP tersebut berlaku sejak 27 Maret 2026 dan menggantikan rezim PP Nomor 43 Tahun 2014 beserta perubahan-perubahannya.

Yang menarik, dalam Penjelasan Pasal 45 PP Nomor 16 Tahun 2026, politik uang disebut sebagai salah satu contoh keadaan yang dapat menyebabkan calon dikenai sanksi pembatalan sebagai calon, sehingga tidak dapat mengikuti proses lebih lanjut dalam tahapan Pilkades. Artinya, politik uang bukan persoalan etika belaka; apabila unsur dan mekanisme hukumnya terpenuhi, konsekuensinya dapat menyentuh langsung status pencalonan.

PP Nomor 16 Tahun 2026 juga mengatur tahapan Pilkades, termasuk pencalonan, kampanye, masa tenang, pemungutan suara, dan penetapan. Dengan demikian, setiap dugaan pelanggaran dalam tahapan tersebut semestinya tidak diselesaikan dengan membiarkannya menjadi isu liar di tengah masyarakat, melainkan melalui pemeriksaan berdasarkan mekanisme yang berlaku.

Karena itu, sorotan kini tertuju kepada Panitia Pengawas/Tim Pengawas Pilkades Kabunan. Pengawas bukan sekadar nama dalam struktur kepanitiaan. Kehadiran pengawas seharusnya menjadi instrumen untuk memastikan seluruh calon diperlakukan setara dan setiap dugaan pelanggaran diperiksa secara objektif tanpa melihat siapa calon, siapa pendukungnya, atau seberapa kuat jaringan politik di belakangnya.

Awak media telah melakukan konfirmasi kepada Ketua Timwas dan anggota Timwas Pilkades Kabunan melalui WhatsApp terkait dugaan pembagian uang tersebut, termasuk mengenai keberadaan rekaman video dan dokumentasi amplop. Namun hingga berita ini diturunkan, belum ada jawaban atau klarifikasi resmi yang diterima redaksi.

Pertanyaan publik sederhana tetapi mendasar: apakah Timwas sudah menerima informasi tersebut? Apakah bukti video sudah diperiksa? Apakah pihak yang berada dalam rekaman telah dimintai keterangan? Dan apabila ditemukan indikasi pelanggaran, langkah apa yang akan ditempuh?

Pertanyaan tersebut penting dijawab bukan untuk menghakimi pihak tertentu, melainkan untuk menjaga agar proses Pilkades Kabunan tidak kehilangan kepercayaan masyarakat. Sebaliknya, apabila setelah pemeriksaan ternyata dugaan tersebut tidak terbukti, hasil pemeriksaan yang transparan justru akan menjadi bentuk perlindungan terhadap seluruh calon dari tuduhan yang tidak berdasar.

Di sinilah profesionalisme pengawas diuji. Pengawasan tidak boleh hanya aktif ketika situasi aman dan persoalan kecil. Pengawasan justru harus menunjukkan keberanian ketika muncul dugaan pelanggaran yang berpotensi memengaruhi integritas hasil pemilihan.

KabarSBI.com mengingatkan bahwa asas praduga tak bersalah tetap harus dijunjung tinggi. Rekaman video bukan vonis, foto amplop bukan otomatis bukti bahwa politik uang telah terjadi, dan informasi sumber bukan dengan sendirinya merupakan fakta hukum. Semuanya harus diverifikasi melalui pemeriksaan yang sah dan objektif.

Namun pada saat yang sama, prinsip praduga tak bersalah tidak boleh berubah menjadi alasan untuk mengabaikan dugaan pelanggaran. Jika ada bukti yang layak diperiksa, maka periksa. Jika ada saksi yang harus dimintai keterangan, panggil. Jika tidak terbukti, sampaikan kepada publik. Jika terbukti, proses sesuai hukum.

Kerangka hukum Pilkades juga harus dibaca bersama ketentuan daerah yang mengatur teknis pelaksanaan Pilkades di Kabupaten Pemalang. Sebab, konsekuensi administratif maupun mekanisme penanganan pelanggaran dapat bergantung pada peraturan pelaksana yang berlaku di daerah serta hasil pemeriksaan terhadap unsur pelanggarannya.

Di sisi lain, Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers memberikan ruang bagi pers untuk menjalankan fungsi kontrol sosial. Pasal 5 ayat (1) mewajibkan pers menghormati asas praduga tak bersalah, sedangkan Pasal 6 menegaskan peranan pers dalam memenuhi hak masyarakat untuk mengetahui, menegakkan nilai dasar demokrasi, mengembangkan informasi yang tepat dan benar, serta melakukan pengawasan, kritik, koreksi, dan saran terhadap kepentingan umum.

Karena itu, pemberitaan ini bukan dimaksudkan untuk menjatuhkan calon tertentu. Justru sebaliknya, seluruh calon memiliki hak yang sama untuk mendapatkan proses demokrasi yang bersih dan adil. Masyarakat juga mempunyai hak untuk mengetahui apakah dugaan yang beredar memiliki dasar atau hanya sekadar isu menjelang pemungutan suara.

Pilkades bukan arena untuk membeli loyalitas masyarakat. Jabatan kepala desa bukan hadiah bagi pihak yang paling banyak mengeluarkan uang. Kepala desa terpilih nantinya akan memegang amanah pemerintahan, pembangunan, pelayanan publik, serta pengelolaan kepentingan masyarakat desa.

Maka, apabila politik uang benar-benar terjadi, jangan biarkan persoalan tersebut berhenti sebagai rumor di warung kopi atau percakapan media sosial. Bawa bukti ke meja pemeriksaan. Uji. Verifikasi. Klarifikasi. Dan putuskan berdasarkan hukum.

Sebaliknya, apabila tuduhan tersebut tidak benar, pihak yang merasa dirugikan juga memiliki hak untuk memberikan klarifikasi dan menggunakan mekanisme hak jawab. KabarSBI.com membuka ruang yang sama bagi seluruh pihak terkait.

Kini masyarakat Kabunan menunggu satu hal: keberanian pengawas untuk menjawab dengan fakta, bukan dengan diam.

Sebab yang sedang dipertaruhkan bukan sekadar Rp100.000 dalam sebuah amplop. Yang dipertaruhkan adalah harga suara rakyat, legitimasi kepala desa terpilih, dan wajah demokrasi Desa Kabunan.

Jika bersih, tunjukkan bahwa prosesnya bersih. Jika ada pelanggaran, jangan lindungi pelanggaran. Karena pengawas yang benar-benar independen tidak berdiri di belakang calon—pengawas berdiri di belakang aturan dan kepentingan rakyat.

KabarSBI.com akan terus memberikan ruang bagi proses klarifikasi dan perkembangan resmi perkara ini.

(Red/as)

Catatan Redaksi: KabarSBI.com menjunjung asas praduga tak bersalah dan tidak menyimpulkan adanya politik uang sebelum terdapat hasil pemeriksaan atau penetapan dari pihak yang berwenang. Redaksi membuka ruang klarifikasi dan hak jawab bagi seluruh pihak yang disebut maupun berkepentingan dalam pemberitaan ini sesuai UU Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers, khususnya Pasal 5 ayat (2) mengenai kewajiban pers melayani hak jawab.


Uang Keringat 5 Tahun Mantan PMI di Arab Saudi Diklaim Habis; GMOCT Kawal Kasus Dugaan Penggelapan dan Minta Evaluasi Netralitas Kades Rancasari

By On November 03, 2026


 
indramayu – Kasus dugaan penggelapan dana milik Mirnawati (33), mantan Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal wilayah Indramayu yang bekerja di Riyadh Arab Saudi selama lima tahun (2019‑2025), memasuki babak baru yang menggugah hati publik.
 
Berdasarkan hasil investigasi tim Gabungan Media Online dan Cetak Ternama (GMOCT) yang dikonfirmasi langsung di rumah terduga pelaku di Desa Rancasari pada Senin (02/11), terduga pelaku di hadapan saksi mengakui bahwa gaji Mirnawati selama 5 tahun telah masuk ke rekeningnya berturut‑turut.
 
Yang menjadi sorotan adalah alasan yang disampaikan terduga pelaku: uang tersebut diklaim telah habis untuk kebutuhan jajan kedua anak korban yang kini berusia 10 dan 7 tahun.
 
Menurut data yang diterima tim investigasi, kerugian materiil korban sementara ditaksir mencapai Rp280 juta dari dana gaji PMI, belum termasuk kerugian hasil investasi gadai sawah senilai Rp40 juta serta investasi ternak kambing yang hingga kini belum jelas penyelesaiannya. Total tuntutan korban mencapai sekitar Rp280 juta lebih yang diminta untuk dikembalikan.
 
Ada Kejanggalan: Diduga Kades Memihak Terduga Pelaku
 
Keluarga korban mengaku kecewa lantaran dalam proses konfirmasi tersebut oknum Kepala Desa/Lurah Rancasari dinilai justru memihak kepada terduga pelaku. Menurut mereka, sebagai warga kecil yang telah bekerja keras bertahun‑tahun di Arab Saudi, mereka berharap mendapatkan perlindungan dari pimpinan desa, bukan justru merasa dikucilkan.
 
"Kami hanya minta keadilan. Sudah diakui uang itu masuk ke rekeningnya, lalu dibilang habis untuk jajan anak. Yang lebih menyakitkan, oknum Kades justru terlihat membela terduga pelaku," ungkap keluarga korban kepada tim GMOCT.
 
Sementara itu, Ketua RW 09 Desa Rancasari Bapak Kasdi yang hadir langsung di lokasi konfirmasi, diposisikan sebagai saksi kunci yang membenarkan adanya pengakuan dari terduga pelaku. Yang didukung dokumentasi foto dan rekaman yang diamankan tim investigasi.
 
GMOCT Tegaskan Akan Kawal Sampai Penegakan Hukum
 
Bendahara Umum II GMOCT sekaligus Pimpinan Redaksi KataTribun.id, Vini Amelia menegaskan bahwa pihaknya tidak akan membiarkan kasus ini berhenti di tingkat desa saja.
 
"Kami sangat menyayangkan jika benar ada oknum Kepala Desa yang memihak terduga pelaku. Tugas Kepala Desa seharusnya menjadi pelindung seluruh warga tanpa memandang siapa yang bersangkutan. Karena sudah ada pengakuan dan saksi dari Bapak Kasdi, kami akan melaporkan kasus ini ke Aparat Penegak Hukum dengan dugaan Penggelapan berdasarkan Pasal 489 KUHP Baru," tegas Vini Amelia.
 
Vini juga menyatakan bahwa tim akan menyurati Camat serta Inspektorat Kabupaten Indramayu guna meminta evaluasi terhadap netralitas oknum Kepala Desa Rancasari.
 
Tuntutan Korban yang Diserahkan ke Tim GMOCT:
 
1. Pengembalian dana tabungan PMI senilai sekitar Rp280 juta;
​
2. Penyelesaian hasil investasi gadai sawah dari Rp40 juta;
​
3. Pengusutan dugaan kekerasan terhadap anak korban berusia 10 dan 7 tahun;
​
4. Evaluasi netralitas Kepala Desa Rancasari oleh Camat dan Inspektorat Kabupaten Indramayu;
​
5. Penanganan kasus secara transparan oleh Aparat Penegak Hukum.
 
Catatan Redaksi:
Berita ini merupakan hasil investigasi awal tim GMOCT/KataTribun.id. Dugaan penggelapan, keberpihakan oknum Kades, serta dugaan kekerasan anak belum memiliki putusan hukum yang tetap. Redaksi telah berupaya mencari konfirmasi kepada Kepala Desa Rancasari dan terduga pelaku namun hingga berita diturunkan belum diperoleh tanggapan resmi. Redaksi akan terus mengawal perkembangan kasus ini dan memanggil pihak‑pihak terkait untuk klarifikasi.
 
Sumber: Tim Investigasi GMOCT / KataTribun.id

#Noviral #Nojustice

Gabungan Media Online dan Cetak Ternama (GMOCT) 

Hotline Pengaduan dan Hak Jawab : 0821-1758-6761


Puluhan Pengunjung Terindikasi Positif, BNNK Sumenep Pertegas Perang terhadap Narkoba

By On November 01, 2026


SUMENEP — Operasi pemberantasan narkotika kembali mengguncang aktivitas tempat hiburan malam di Kabupaten Sumenep. BNNP Jawa Timur bersama BNNK Sumenep menggelar operasi gabungan di Mr Ball pada Minggu (1/11/2026) dini hari. Operasi yang berlangsung sejak sekitar pukul 02.00 WIB itu menyasar ratusan pengunjung yang berada di lokasi.


Sebanyak 37 personel BNNP Jawa Timur dan BNNK Sumenep diterjunkan dalam operasi tersebut. Ketika petugas memasuki lokasi, suasana hiburan seketika berubah. Lampu ruangan dinyalakan dan pengunjung diarahkan untuk menjalani pemeriksaan serta tes urine. Petugas juga melakukan penyisiran terhadap sejumlah area di dalam tempat hiburan sebagai bagian dari upaya mendeteksi potensi penyalahgunaan maupun peredaran narkotika.


Hasilnya menjadi perhatian serius. Puluhan pengunjung dilaporkan menunjukkan hasil skrining urine yang terindikasi positif Amfetamin dan/atau Metamfetamin. Namun, hasil skrining tersebut tetap perlu dipastikan melalui pemeriksaan dan proses lebih lanjut sesuai prosedur. Prinsip kehati-hatian ini penting agar setiap tindakan terhadap masyarakat tetap berbasis bukti dan ketentuan hukum.


Operasi yang berlangsung sekitar delapan jam tersebut sekaligus menjadi sinyal bahwa tempat hiburan malam bukan wilayah yang kebal dari pengawasan aparat. Pemberantasan narkotika tidak cukup hanya dilakukan melalui kampanye antinarkoba, seminar, maupun sosialisasi. Ketika indikasi penyalahgunaan ditemukan di lapangan, aparat harus hadir, memeriksa, menindak sesuai kewenangan, dan memastikan proses hukum berjalan secara transparan.


Di bawah kepemimpinan Kombes Pol F. Sandy Sitepu, BNNK Sumenep dinilai menunjukkan komitmen untuk memperkuat langkah pemberantasan penyalahgunaan narkotika di wilayahnya. Operasi bersama BNNP Jawa Timur tersebut menjadi bagian penting dari upaya mempersempit ruang penyalahgunaan narkotika, khususnya di lingkungan yang memiliki potensi kerawanan.


Pimpinan Redaksi Sahabat Bhayangkara Indonesia (KabarSBI.com), Ketua Umum GMOCT, sekaligus Ketua II DPP LPK-RI, Agung Sulistio, memberikan apresiasi terhadap langkah BNNP Jawa Timur dan BNNK Sumenep. Menurutnya, operasi semacam itu harus dilakukan secara konsisten dan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial.


«“Kalau negara ingin serius perang terhadap narkoba, maka pengawasan harus dilakukan secara nyata. Jangan hanya menunggu laporan masyarakat setelah persoalan menjadi besar. Temuan di lapangan harus ditindaklanjuti secara profesional, transparan, dan berdasarkan hukum,” tegas Agung.»


Agung juga meminta Pemerintah Kabupaten Sumenep tidak sekadar melihat persoalan tersebut sebagai urusan BNN. Jika pemeriksaan lanjutan menemukan pelanggaran hukum, penyalahgunaan narkotika, atau persoalan terkait perizinan dan operasional tempat hiburan, maka instansi yang berwenang perlu melakukan evaluasi sesuai ketentuan. Keselamatan masyarakat dan masa depan generasi muda harus ditempatkan di atas kepentingan bisnis hiburan.


Operasi di Mr Ball menjadi pengingat bahwa perang melawan narkoba membutuhkan keberanian sekaligus konsistensi. BNN, Polri, pemerintah daerah, Satpol PP, pengelola tempat hiburan, tokoh masyarakat, keluarga, dan masyarakat luas memiliki tanggung jawab masing-masing. Jangan biarkan tempat hiburan berubah menjadi ruang yang memberi celah bagi peredaran dan penyalahgunaan narkotika.


Bagi Sumenep, operasi tersebut seharusnya tidak berhenti pada pemeriksaan satu lokasi. Jika terdapat indikasi pelanggaran, publik berhak mendapatkan penjelasan mengenai tindak lanjutnya. Sebab, keberhasilan pemberantasan narkoba bukan hanya diukur dari berapa banyak orang yang diperiksa, tetapi dari seberapa konsisten aparat menutup ruang penyalahgunaan, membongkar jaringan, dan melindungi masyarakat dari ancaman narkotika.

Hadiri Majalengka South Competition Vol. 2, Omang Abdul Somad Apresiasi Kolaborasi Pemuda KNPI dan Karang Taruna

By On November 01, 2026


MAJALENGKA – Gelaran Majalengka South Competition (MSC) Vol. 2 sukses diselenggarakan di GOR Desa Kancana, Kecamatan Cikijing, Kabupaten Majalengka. Kegiatan yang merupakan hasil kolaborasi pemuda KNPI bersama Karang Taruna Kabupaten Majalengka tersebut menghadirkan kompetisi futsal antarpelajar tingkat SLTA.


Kompetisi ini berlangsung meriah dengan antusiasme tinggi dari para peserta maupun masyarakat yang hadir. Sorak-sorai penonton turut menyemarakkan jalannya pertandingan, sekaligus menunjukkan besarnya dukungan masyarakat terhadap kegiatan olahraga dan kreativitas generasi muda di wilayah Majalengka bagian selatan.


Kegiatan tersebut juga dihadiri Omang Abdul Somad, tokoh masyarakat yang aktif dalam berbagai organisasi dan kelembagaan di tingkat daerah maupun nasional. Kehadirannya menjadi bentuk perhatian terhadap kegiatan kepemudaan yang memberikan ruang positif bagi para pelajar untuk mengembangkan potensi dan prestasi.


Omang Abdul Somad saat ini mengemban sejumlah amanah organisasi kepemudaan dan tokoh politik, di antaranya Wakil Ketua Umum PROPAS Pro Prabowo Subianto tingkat nasional, Direktur BUMP NB Majalengka, Dewan Penasehat GP Ansor Majalengka, Dewan Majelis Pakar Karang Taruna Majalengka, Dewan Pembina Partai PSI Majalengka, Sekretaris Umum IKSAMA (Ikatan Kiyai Santri Majalengka), bidang Hukum dan Advokasi HAMIDA Majalengka, Pelindung Fatayat Zona Selatan, Komite SMAN 1 Cikijing, Ketua Bidang Politik HAROKAH Majalengka, serta pengurus INFOKOM MUI Provinsi Jawa Barat.


Dalam kesempatan tersebut, Omang Abdul Somad menyampaikan apresiasinya terhadap penyelenggaraan MSC Vol. 2. Menurutnya, kegiatan olahraga yang diinisiasi oleh organisasi kepemudaan merupakan langkah positif dalam membangun karakter sekaligus membuka ruang bagi generasi muda untuk menunjukkan kemampuan dan kreativitasnya.


"Saya sangat mengapresiasi terselenggaranya Majalengka South Competition Vol. 2 ini. Kegiatan seperti ini menjadi bukti bahwa pemuda Majalengka memiliki semangat, kreativitas, dan potensi besar untuk menghadirkan kegiatan positif di tengah masyarakat," ungkap Omang.


Ia menambahkan, kompetisi olahraga tidak semata-mata berbicara tentang kemenangan dan kekalahan. Lebih dari itu, olahraga menjadi sarana membangun kedisiplinan, sportivitas, solidaritas, serta semangat kebersamaan di kalangan generasi muda.


"Melalui kompetisi ini, para pelajar tidak hanya mendapatkan ruang untuk menunjukkan kemampuan, tetapi juga belajar menghargai perjuangan dan kerja sama. Saya berharap kolaborasi KNPI dan Karang Taruna ini tidak berhenti sampai di sini, tetapi terus berlanjut dengan menghadirkan lebih banyak kegiatan yang bermanfaat bagi anak-anak muda," tambahnya.


Menurut Omang, generasi muda harus diberikan kesempatan dan kepercayaan untuk terlibat aktif dalam berbagai kegiatan sosial, olahraga, maupun pembangunan daerah.


"Pemuda jangan hanya menjadi penonton perubahan, tetapi harus hadir sebagai pelaku perubahan. Majalengka membutuhkan generasi muda yang aktif, kreatif, berintegritas, dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi daerahnya," tegasnya.


Selain dihadiri berbagai elemen masyarakat dan kepemudaan, kegiatan ini juga mendapat perhatian dengan hadirnya Ustaz Omang Abdul Somad yang turut menyaksikan kemeriahan kompetisi. Kehadiran berbagai unsur tersebut semakin menambah semarak penyelenggaraan MSC Vol. 2.


Melalui kegiatan ini, kolaborasi KNPI dan Karang Taruna Kabupaten Majalengka diharapkan dapat terus memperkuat ekosistem kepemudaan yang produktif dan kompetitif. MSC Vol. 2 juga diharapkan menjadi wadah berkelanjutan untuk menjaring potensi atlet futsal pelajar sekaligus mempererat silaturahmi antarsekolah di Kabupaten Majalengka.

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *